Rabu, 31 Desember 2025
Ganti Taun
Jumat, 12 September 2025
Pertemuan yang Membawa Kedamaian
Ada malam-malam tertentu dalam hidup yang terasa sederhana, namun meninggalkan jejak yang panjang dalam hati. Malam ketika aku bertemu denganmu adalah salah satunya. Tidak ada perayaan besar, tidak ada rencana istimewa. Hanya pertemuan yang berlangsung alami, lalu kita berbincang sampai waktu seakan lupa berjalan. Tetapi justru kesederhanaan itu yang menjadikannya begitu berharga.
Percakapan kita malam itu bukanlah tentang mencari jawaban atas pertanyaan besar kehidupan. Kita tidak sedang berusaha menyelesaikan masalah dunia. Kita hanya duduk, berbagi cerita, dan mendengarkan. Namun, dalam kesederhanaan itulah aku menemukan ruang untuk mengenali kembali diriku sendiri. Setiap kata yang terucap menjadi cermin yang memantulkan bagian-bagian dari diriku yang selama ini aku abaikan. Aku mulai menyadari bahwa banyak hal yang dulu terasa berat, sesungguhnya hanya menunggu untuk diterima dengan lapang dada.
Ada titik di mana aku merasa berdamai. Aku tidak lagi menolak rasa kecewa, tidak lagi melawan kesedihan, bahkan tidak lagi berusaha menutupi ketakutan. Aku membiarkan semua itu hadir, lalu menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidupku. Rasanya seperti melepaskan beban yang sekian lama dipikul tanpa aku sadari. Kedamaian itu datang bukan dari luar diriku, tetapi dari keberanian untuk mengatakan, “Aku baik-baik saja dengan diriku sendiri.”
Yang menarik, aku melihat hal yang sama terjadi padamu. Dari tatapanmu, aku menangkap sejenis kelegaan. Seolah-olah kamu juga menemukan ruang damai dalam percakapan itu. Kita berdua, dengan cara masing-masing, sedang belajar berdamai dengan diri sendiri. Aku tidak tahu bagaimana prosesmu sebelum malam itu, tapi aku melihat ada senyum kecil yang tulus, yang menunjukkan bahwa sebagian dari bebanmu pun akhirnya terlepas.
Pertemuan ini mengajarkanku sesuatu yang berharga: bahwa kebahagiaan dan ketenangan tidak selalu datang dari hubungan dengan orang lain, melainkan dari rekonsiliasi kita dengan diri sendiri. Namun, terkadang, kehadiran orang lain menjadi pintu yang membuka jalan menuju proses itu. Aku mungkin tidak akan bisa berdamai secepat ini jika tidak ada percakapan malam itu. Dan mungkin, kamu pun merasakan hal yang sama.
Pada akhirnya, aku belajar bahwa setiap pertemuan memiliki alasan. Ada yang datang untuk tinggal, ada yang datang hanya untuk lewat, tetapi semua membawa makna. Malam itu, aku tidak menuntutmu untuk tetap ada, dan kamu pun tidak menuntutku untuk selalu bertahan. Kita hanya duduk, berbicara, lalu pulang dengan hati yang lebih ringan. Itu saja sudah cukup.
Kini, ketika aku menuliskan refleksi ini, aku merasa bersyukur. Aku bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk merasakan kelegaan, untuk menerima diriku apa adanya, dan untuk melihat bahwa orang lain pun sedang berjuang menemukan hal yang sama. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tapi aku tahu bahwa malam itu telah mengajarkanku arti kedamaian yang sejati.
Kadang-kadang, kita hanya perlu satu percakapan, satu malam yang tenang, dan satu kehadiran sederhana untuk menyadari bahwa hidup ini tidak seberat yang kita kira. Dan malam itu, bagiku, adalah malam di mana aku akhirnya berdamai. dengan diriku sendiri, dan denganmu.
Utara Bandung, 2025
Selasa, 12 Agustus 2025
"Vocatio Quae Fata Mutavit"
Hari itu, suara dering telepon seperti mengetuk pelan pintu mimpiku, lalu merobeknya dengan lembut. Mata yang berat terpaksa membuka diri, dan di ujung sana,suara itu,suara yang paling kukenal di dunia: ibuku.
Nada bicaranya seperti arus sungai di musim hujan; tenang tapi tak bisa dibendung. Ia mengabarkan sesuatu yang akan mengubah arah langkahku: aku harus pulang. Sebuah panggilan untuk memasuki dunia asing bernama pendidikan.
Setelah menerima telepon dari ibu, aku memilih menyepi sejenak. Dunia di sekitarku tetap ramai motor melintas, suara gelas beradu di warung kopi namun kepalaku adalah pusaran badai yang tak terlihat. Pikiran berputar tak karuan, seakan benang kusut yang tak tahu ujung dan pangkalnya.
Niatku pada awalnya sederhana: datang ke Bali untuk bekerja, menambatkan tenaga dan waktu demi masa depan yang kuatur sendiri. Namun kini, satu panggilan saja telah menggeser seluruh peta perjalanan. Apa yang kukira jalanku, ternyata hanya lorong sementara yang membawaku menuju pintu lain. pintu yang dibuka oleh suara ibu.
Setelah menyepi, membiarkan pikiran menenangkan diri seperti air yang kembali jernih setelah riaknya reda, aku mengambil keputusan: pulang hari itu juga. Mungkin, perjalanan ini memang cukup sampai di sini. Ada rasa yang sulit kujelaskan seperti perahu yang tahu kapan harus kembali ke dermaga meski angin masih bertiup.
Sampai di kosan, aku duduk bersama Maybu. Obrolan kami mengalir pelan, tapi suaranya selalu mengandung semangat yang mencoba menegakkanku kembali. Ia mengingatkan tujuan awal kami, seakan ingin menaruh kembali kompas di tanganku.
Aku hanya tersenyum pahit, lalu menjawab lirih, "May, urang jigana teu bisa ngabuktikeun nanaon deui euy. Lulus 14 semester, ulin kamana wae…" Kalimat itu seperti kunci yang membuka seluruh keresahan yang kusimpan. Tentang waktu yang terbuang, tentang langkah-langkah yang tak selalu menuju ke satu titik, tentang rasa kalah pada diriku sendiri.
Ia terdiam, lalu mengangguk perlahan. "Sok, rek balik iraha? Hayu, dianterkeun ku urang," ucapnya, seolah mengerti tanpa perlu aku menjelaskan lebih jauh.
Segera aku bergegas mencari tiket bus. Harapanku sederhana langsung menuju Bandung. Namun hidup, seperti biasa, tak pernah memberi jalur lurus. Semua tiket jurusan Bali–Bandung habis. Terpaksa aku memilih rute yang memutar: Bali–Jogja–Bandung. Perjalanan yang lebih panjang, tapi mungkin di situlah semua yang ingin kupelajari tentang pulang akan kutemukan.
Pukul 13.00, Maybu mengantarkanku ke pool Surya Bali, tak jauh dari terminal Ubung. Jalan menuju ke sana terasa singkat, padahal di kepalaku waktu berjalan lambat seolah ingin menahan langkahku. Sesampainya di pool, aku menatapnya sekali lagi, lalu bertanya dengan nada yang lebih seperti memastikan nasib, “Terus, May… kumaha engke?”
Ia tersenyum tipis, matanya menatap jauh, “Urang bakal neruskeun tujuan awal urang kadieu. Tambahanna… moal waka balik nepi ka tilu taun wae mah.”
Jawaban itu membuat dadaku berat, meski aku sudah tahu ia akan tetap berjalan di jalannya sendiri. Aku menarik napas, lalu meminta maaf karena tak bisa membersamai langkah itu. Kata-kata yang keluar rasanya sederhana, tapi di dalamnya ada rasa kalah dan pasrah yang menekan dari segala sisi.
Ia menerimanya dengan lapang dada atau setidaknya begitu yang ingin ia tunjukkan. Aku tahu, ada beban yang ia simpan di balik senyumnya.
Akhirnya, suara panggilan pemberangkatan terdengar. Bus jurusan Bali–Jogja bersiap melaju. Kami berpisah tanpa pelukan, hanya dengan tatapan yang mengirimkan semua kata yang tak sempat terucap. Saat bus mulai bergerak, aku melihatnya mengecil di balik kaca, seperti tujuan awal kami yang kini tinggal kenangan di persimpangan jalan.
Senin, 11 Agustus 2025
Lelaki yang Diam
Aku mencintaimu...
namun hanya lewat tatap yang tak pernah kau sadari.
Lewat senyum yang kutahan,
dan doa-doa yang tak pernah kau tahu namanya siapa.
Setiap kali kau lewat,
jantungku berlari lebih dulu dari langkahku.
Tapi lidahku selalu gugup,
seakan kata “aku suka padamu”
adalah mantra terlarang di hadapanmu.
Aku adalah lelaki yang diam.
Yang menyimpan cinta dalam detak,
bukan dalam ucapan.
Yang memilih memeluk bayanganmu,
karena terlalu takut kehilangan nyata dirimu.
Dan waktu pun berjalan…
kau jatuh cinta tapi bukan padaku.
Kau tertawa bahagia dalam pelukan orang lain,
sementara aku… masih di tempat yang sama,
mencintaimu dalam diam yang sama.
Kini segalanya telah terlambat.
Kau bahagia, dan aku tak pernah menjadi bagian dari kisah itu.
Satu-satunya warisan dari perasaanku hanyalah penyesalan,
dan sebaris puisi yang tak sempat kuberikan padamu.
Aku lelaki yang diam.
Yang pernah mencintaimu sedalam laut,
setenang langit…
namun tak pernah cukup berani untuk menyelam ke hatimu.
terinspirasi dari cerita sahabat
Selasa, 29 Juli 2025
"Sore yang Tak Pernah Mendengar"
Kau duduk di bangku taman yang sama,
dengan senyum yang selalu bisa membuat dunia tampak sederhana.
Aku hanya beberapa langkah darimu,
namun jaraknya terasa seperti satu kehidupan penuh keberanian yang tak kumiliki.
Ingin rasanya kugenggam keberanian itu sore ini,
menyebut namamu,
mengatakan betapa lama aku telah jatuh,
pada segala yang sederhana darimu.
Tapi aku hanya berdiri,
seperti pohon tua yang menatap langit
tak bergerak, tak bicara,
meski di dadanya badai tak kunjung reda.
Angin sore menyapu rambutmu,
dan aku masih diam.
Menunggu momen sempurna yang tak pernah datang,
sampai akhirnya senja pun lelah
dan kau beranjak pergi,
lagi.
Kini, aku hanya punya sisa cahaya dari langit yang semakin redup,
dan bayanganmu yang pelan-pelan menghilang di ujung jalan.
Sore telah mencatat satu lagi penyesalan
seorang lelaki yang mencintai dalam diam,
dan tak pernah sempat mengatakan
“Aku menyayangimu sejak senja pertama yang kita lihat bersama.”
Selasa, 22 Juli 2025
Masih Aku Simpan Namamu
Di malam yang tenang, aku masih menyebut namamu,
dalam bisik yang tak lebih nyaring dari desir angin.
Kau pernah duduk di sini,
di sampingku,
sambil berkata bahwa cinta kita tak akan pernah berakhir.
Tapi waktu tak pernah setia seperti janjimu.
Ia mencuri dirimu dalam diam,
meninggalkanku dengan ruang yang tak bisa lagi kugenggam,
selain bayangmu...
yang kian samar tiap aku mencoba mengingat.
Aku masih mengatur dua cangkir di meja,
seolah-olah kau akan pulang,
menyapa seperti dulu:
dengan senyum lelah dan mata yang selalu penuh cinta.
Tapi tak ada langkah,
tak ada suara kunci,
tak ada kau.
Kini, namamu hanya tinggal gema
di dada yang tak berhenti memanggil.
Dan aku—
seorang lelaki yang mencintai kenangan,
lebih dari apa pun yang nyata.
Jika kau mendengarku dari tempat yang tak bisa kujangkau,
ketahuilah...
aku masih menyimpan namamu,
di dalam setiap detak yang tak pernah benar-benar utuh tanpamu.
"Kau Pergi, Aku Tetap Di Sini"
Kau pernah datang seperti pagi,
membawa hangat, mengusir sepi.
Dengan senyummu, dunia serasa berhenti,
dan aku,
dengan bodohnya, percaya kau akan tinggal selamanya di sini.
Namun kini,
yang tinggal hanyalah bayang dan nama,
yang kusebut perlahan dalam doa dan diam,
karena kau,
telah memilih langit untuk pulang.
Aku masih berjalan di jalan yang sama,
tempat kita pernah menyusun mimpi dari tawa.
Kini, hanya aku—
menyusun reruntuhannya sendiri,
dengan tangan gemetar dan mata yang tak lagi mampu menangis.
Kau tahu?
Tak ada hari tanpa kau kusebut.
Bahkan saat semua orang menyuruhku untuk ikhlas,
aku masih diam-diam menyapa angin,
berharap ia membawa salam rinduku ke tempatmu berada.
Kau pergi,
dan cinta ini tak ikut mati.
Ia tetap tumbuh, meski tak lagi ada yang disirami.
Tetap menunggu, meski tak tahu akan untuk siapa.
Kelak, jika waktu mempertemukan kita lagi…
di ujung langit, di batas hidup yang baru—
biarkan aku menjadi rumah yang kau datangi tanpa ragu.
Sampai saat itu,
aku tetap di sini.
Menjagamu dalam ingatan.
Mencintaimu dalam senyap yang abadi.
Sore
Pundak kita sejajar kala langkah menyatu,
menertawakan hal-hal remeh seolah dunia milik berdua,
dan di sela tawa itu, tatapan kita saling berbicara
tanpa kata, namun penuh makna.
Wajahmu seperti cahaya jingga yang perlahan memeluk langit sore,
suaramu serupa desir angin lembut yang menenangkan jiwa,
dan tubuhmu… berdiri seperti siluet puncak, diam tapi agung.
tenang, hangat, dan memukau dalam kesederhanaannya.
Ketika kau tak ada, waktu berjalan malas,
seperti langit yang lupa warna birunya.
Aku mencoba menyamarkan rindu dengan kalimat ringan,
‘Aku kesepian,’ kataku sambil tersenyum kecil.
Dan kau… hanya tertawa.
Lucunya, kau tak tahu, di balik kalimat itu,
ada hati yang duduk diam menunggu.
Lalu aku mulai menghitung satu per satu,
jejak-jejak kecil yang pernah kau tinggalkan
dengan harap, ia tetap bersinar di tempatnya,
tak padam, meski kau tak lagi ada di dekat ku.
seperti langit yang mereda setelah hujan
mungkin hati ini pun akan kembali cerah,
saat kuingat kembali hangatnya senyummu
yang kusapa dalam kepala, lalu bibirku ikut merekah bahagia
Entah sejak kapan, tapi mungkin sejak hari itu kita tetap menjadi kita.
Tak banyak yang berubah. Masih berlari bersama, menyusuri malam demi malam
seakan yakin bahwa esok selalu pantas untuk diperjuangkan.
Kita tak menuntut waktu untuk berhenti, hanya ingin tetap saling menggenggam
saat dunia terus berputar
Ketika aku sendiri, saat kekhawatiran menyelinap diam-diam dan malam terasa begitu panjang,
kita akan terus berbincang meski hanya lewat suara yang lelah, namun hangat.
Hingga tanpa sadar, kalimat yang belum selesai digantikan oleh napas tenang yang perlahan tertidur. Dan di sana, aku tahu… malamku tak lagi sepi
Kuingin tahu, apa yang kau lihat
saat matamu menerawang jauh,
melampaui kata-kata,
melintasi langit yang bahkan tak sempat kusapa.
Akankah aku bisa melihatnya juga,
di sini...
di tempat yang sama,
di mana senja mewarnai segalanya
Di antara jutaan pancaran cahaya, lahirlah sebuah rasa yang tak terucap
cinta yang tumbuh diam-diam,namun tak pernah ragu akan arah.
Meski kau tak berubah, atau jika nanti dunia membuatmu berubah,
jangan khawatir...bagiku, kau tetap dirimu.
Kelak,
ketika waktu telah mengizinkan kita bertemu kembali,
aku ingin kita bertemu…
di tempat aku menatapmu dengan harap yang diam
dengan segala rasa pernah tumbuh tanpa suara
Self-Talk
Seandainya aku dapat membuang segalanya. Apakah hidup tanpa tersenyum akan lebih mudah? Lagi-lagi dadaku terasa sesak dan tak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Hai....Seandainya semuanya dapat ku lupakan. Apakah hidup tanpa bersedih juga akan lebih mudah? tetapi karena aku tak dapat melakukannya, jangan mengingat kembali tentangnya.
Hai... Seandainya harapanku dapat menjadi nyata, aku menginginkan satu hal sama sepertimu dahulu, tapi aku juga tahu bahwa itu mustahil bagiku sekarang.
Hai... Seandainya aku masih memiliki hati, bagaimana caraku untuk memulai kembali dan menemukannya ?
Seulas senyum yang pelan hadir di sudut bibirnya dan berkata " Jika kau mencarinya dan memulai kembali, Itu ada disini".
Bebal
Kepadamu yang kupeluk namanya dalam sunyi, tanpa suara
ku ucapkan "sampai jumpa" pada terakhir kita bertemu
meski tak biasa, mungkin sesekali tak apa
sekejap lagi saja, biarkan aku disamping mu
mendengarkan tangis yang menggema hingga langit pun murung
kubiarkan jarak jadi bahasa, saat lidah tak sanggup berkata
Kepadamu, yang tak pernah kusapa, meski setiap detik ingin kutemui dalam kata
Telah kupahami, tawa bisa tumbuh di tanah duka, dan tangis bisa mekar di taman bahagia.
mungkin hatimu memang sudah jauh melampaui segalanya
Garsel,2023
angin yang bertiup di antara aku dan dirimu 2
menyampaikan pesan diam dari hati ke hati,
meski jarak memisah, rasa tetap berembus lembut
Angin yang bertiup antara aku dan dirimu
Entah dari mana yang membawa rasa sepi ku
langit yang telah usai teteskan hujan,
kini telah berganti membawa kehangatan sore.
dari sang gadis yang selalu dingin
pada hari ini rasanya begitu hangat
Wajahnya berseri, namun matanya mengisahkan derita yang tak terucap
Dalam lara yang dalam, tawa menjadi satu-satunya nyala,
rapuh, tapi cukup untuk bertahan
hatimu memang sudah jauh tak bisa dilampaui
rahasia yang selalu ku ceritakan pada bintang-bintang
kini mulai membuka cahayanya