Selasa, 29 Juli 2025

"Sore yang Tak Pernah Mendengar"



Sore turun perlahan,
langit berwarna jingga seperti hatiku yang ragu
antara ingin bicara atau tetap diam
seperti biasanya.

Kau duduk di bangku taman yang sama,
dengan senyum yang selalu bisa membuat dunia tampak sederhana.
Aku hanya beberapa langkah darimu,
namun jaraknya terasa seperti satu kehidupan penuh keberanian yang tak kumiliki.

Ingin rasanya kugenggam keberanian itu sore ini,
menyebut namamu,
mengatakan betapa lama aku telah jatuh,
pada segala yang sederhana darimu.

Tapi aku hanya berdiri,
seperti pohon tua yang menatap langit
tak bergerak, tak bicara,
meski di dadanya badai tak kunjung reda.

Angin sore menyapu rambutmu,
dan aku masih diam.
Menunggu momen sempurna yang tak pernah datang,
sampai akhirnya senja pun lelah
dan kau beranjak pergi,
lagi.

Kini, aku hanya punya sisa cahaya dari langit yang semakin redup,
dan bayanganmu yang pelan-pelan menghilang di ujung jalan.
Sore telah mencatat satu lagi penyesalan
seorang lelaki yang mencintai dalam diam,
dan tak pernah sempat mengatakan


“Aku menyayangimu sejak senja pertama yang kita lihat bersama.”

Selasa, 22 Juli 2025

Masih Aku Simpan Namamu

 


Di malam yang tenang, aku masih menyebut namamu,
dalam bisik yang tak lebih nyaring dari desir angin.
Kau pernah duduk di sini,
di sampingku,
sambil berkata bahwa cinta kita tak akan pernah berakhir.

Tapi waktu tak pernah setia seperti janjimu.
Ia mencuri dirimu dalam diam,
meninggalkanku dengan ruang yang tak bisa lagi kugenggam,
selain bayangmu...
yang kian samar tiap aku mencoba mengingat.

Aku masih mengatur dua cangkir di meja,
seolah-olah kau akan pulang,
menyapa seperti dulu:
dengan senyum lelah dan mata yang selalu penuh cinta.

Tapi tak ada langkah,
tak ada suara kunci,
tak ada kau.

Kini, namamu hanya tinggal gema
di dada yang tak berhenti memanggil.
Dan aku—
seorang lelaki yang mencintai kenangan,
lebih dari apa pun yang nyata.

Jika kau mendengarku dari tempat yang tak bisa kujangkau,
ketahuilah...
aku masih menyimpan namamu,
di dalam setiap detak yang tak pernah benar-benar utuh tanpamu.

"Kau Pergi, Aku Tetap Di Sini"

 

Kau pernah datang seperti pagi,
membawa hangat, mengusir sepi.
Dengan senyummu, dunia serasa berhenti,
dan aku,
dengan bodohnya, percaya kau akan tinggal selamanya di sini.

Namun kini,
yang tinggal hanyalah bayang dan nama,
yang kusebut perlahan dalam doa dan diam,
karena kau,
telah memilih langit untuk pulang.

Aku masih berjalan di jalan yang sama,
tempat kita pernah menyusun mimpi dari tawa.
Kini, hanya aku—
menyusun reruntuhannya sendiri,
dengan tangan gemetar dan mata yang tak lagi mampu menangis.

Kau tahu?
Tak ada hari tanpa kau kusebut.
Bahkan saat semua orang menyuruhku untuk ikhlas,
aku masih diam-diam menyapa angin,
berharap ia membawa salam rinduku ke tempatmu berada.

Kau pergi,
dan cinta ini tak ikut mati.
Ia tetap tumbuh, meski tak lagi ada yang disirami.
Tetap menunggu, meski tak tahu akan untuk siapa.

Kelak, jika waktu mempertemukan kita lagi…
di ujung langit, di batas hidup yang baru—
biarkan aku menjadi rumah yang kau datangi tanpa ragu.
Sampai saat itu,
aku tetap di sini.
Menjagamu dalam ingatan.
Mencintaimu dalam senyap yang abadi.

Sore

 

Pundak kita sejajar kala langkah menyatu,
menertawakan hal-hal remeh seolah dunia milik berdua,
dan di sela tawa itu, tatapan kita saling berbicara
tanpa kata, namun penuh makna.

Wajahmu seperti cahaya jingga yang perlahan memeluk langit sore,
suaramu serupa desir angin lembut yang menenangkan jiwa,
dan tubuhmu… berdiri seperti siluet puncak, diam tapi agung.
tenang, hangat, dan memukau dalam kesederhanaannya.

Ketika kau tak ada, waktu berjalan malas,
seperti langit yang lupa warna birunya.
Aku mencoba menyamarkan rindu dengan kalimat ringan,
‘Aku kesepian,’ kataku sambil tersenyum kecil.
Dan kau… hanya tertawa.
Lucunya, kau tak tahu, di balik kalimat itu,
ada hati yang duduk diam menunggu.

Lalu aku mulai menghitung satu per satu,
jejak-jejak kecil yang pernah kau tinggalkan
dengan harap, ia tetap bersinar di tempatnya,
tak padam, meski kau tak lagi ada di dekat ku.

seperti langit yang mereda setelah hujan
mungkin hati ini pun akan kembali cerah,
saat kuingat kembali hangatnya senyummu
yang kusapa dalam kepala, lalu bibirku ikut merekah bahagia

Entah sejak kapan, tapi mungkin sejak hari itu kita tetap menjadi kita.
Tak banyak yang berubah. Masih berlari bersama, menyusuri malam demi malam
 seakan yakin bahwa esok selalu pantas untuk diperjuangkan.
Kita tak menuntut waktu untuk berhenti, hanya ingin tetap saling menggenggam
saat dunia terus berputar

Ketika aku sendiri, saat kekhawatiran menyelinap diam-diam dan malam terasa begitu panjang,
kita akan terus berbincang meski hanya lewat suara yang lelah, namun hangat.
Hingga tanpa sadar, kalimat yang belum selesai digantikan oleh napas tenang yang perlahan tertidur. Dan di sana, aku tahu… malamku tak lagi sepi

Kuingin tahu, apa yang kau lihat
saat matamu menerawang jauh,
melampaui kata-kata,
melintasi langit yang bahkan tak sempat kusapa.

Akankah aku bisa melihatnya juga,
di sini...

di tempat yang sama,
di mana senja mewarnai segalanya

Di antara jutaan pancaran cahaya, lahirlah sebuah rasa yang tak terucap
cinta yang tumbuh diam-diam,namun tak pernah ragu akan arah.
Meski kau tak berubah, atau jika nanti dunia membuatmu berubah,
jangan khawatir...bagiku, kau tetap dirimu. 

Kelak,
ketika waktu telah mengizinkan kita bertemu kembali,
aku ingin kita bertemu…
di tempat aku menatapmu dengan harap yang diam
dengan segala rasa pernah tumbuh tanpa suara

Self-Talk


Seandainya aku dapat membuang segalanya. Apakah hidup tanpa tersenyum akan lebih mudah? Lagi-lagi dadaku terasa sesak dan tak bisa mengatakan apa-apa lagi.

Hai....Seandainya semuanya dapat ku lupakan. Apakah hidup tanpa bersedih juga akan lebih mudah? tetapi karena aku tak dapat melakukannya, jangan mengingat kembali tentangnya.

Hai... Seandainya harapanku dapat menjadi nyata, aku menginginkan satu hal sama sepertimu dahulu, tapi aku juga tahu bahwa itu mustahil bagiku sekarang.

Hai... Seandainya aku masih memiliki hati, bagaimana caraku untuk memulai kembali dan menemukannya ? 

    Seulas senyum yang pelan hadir di sudut bibirnya dan berkata " Jika kau mencarinya dan memulai kembali, Itu ada disini".

Bebal

Kepadamu yang kupeluk namanya dalam sunyi, tanpa suara

ku ucapkan "sampai jumpa" pada terakhir kita bertemu 

meski tak biasa, mungkin sesekali tak apa 

sekejap lagi saja, biarkan aku disamping mu

mendengarkan tangis yang menggema hingga langit pun murung

kubiarkan jarak jadi bahasa, saat lidah tak sanggup berkata

Kepadamu, yang tak pernah kusapa, meski setiap detik ingin kutemui dalam kata

Telah kupahami, tawa bisa tumbuh di tanah duka, dan tangis bisa mekar di taman bahagia.

mungkin hatimu memang sudah jauh melampaui segalanya 


Garsel,2023

angin yang bertiup di antara aku dan dirimu 2


membawa rindu yang tak sempat terucap,
menyampaikan pesan diam dari hati ke hati,
meski jarak memisah, rasa tetap berembus lembut

Angin yang bertiup antara aku dan dirimu

 Entah dari mana yang membawa rasa sepi ku
langit yang telah usai teteskan hujan,
kini telah berganti membawa kehangatan sore.


dari sang gadis yang selalu dingin
pada hari ini rasanya begitu hangat
Wajahnya berseri, namun matanya mengisahkan derita yang tak terucap

Dalam lara yang dalam, tawa menjadi satu-satunya nyala,
rapuh, tapi cukup untuk bertahan
hatimu memang sudah jauh tak bisa dilampaui
rahasia yang selalu ku ceritakan pada bintang-bintang 

kini mulai membuka cahayanya