Di malam yang tenang, aku masih menyebut namamu,
dalam bisik yang tak lebih nyaring dari desir angin.
Kau pernah duduk di sini,
di sampingku,
sambil berkata bahwa cinta kita tak akan pernah berakhir.
Tapi waktu tak pernah setia seperti janjimu.
Ia mencuri dirimu dalam diam,
meninggalkanku dengan ruang yang tak bisa lagi kugenggam,
selain bayangmu...
yang kian samar tiap aku mencoba mengingat.
Aku masih mengatur dua cangkir di meja,
seolah-olah kau akan pulang,
menyapa seperti dulu:
dengan senyum lelah dan mata yang selalu penuh cinta.
Tapi tak ada langkah,
tak ada suara kunci,
tak ada kau.
Kini, namamu hanya tinggal gema
di dada yang tak berhenti memanggil.
Dan aku—
seorang lelaki yang mencintai kenangan,
lebih dari apa pun yang nyata.
Jika kau mendengarku dari tempat yang tak bisa kujangkau,
ketahuilah...
aku masih menyimpan namamu,
di dalam setiap detak yang tak pernah benar-benar utuh tanpamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar