Selasa, 29 Juli 2025

"Sore yang Tak Pernah Mendengar"



Sore turun perlahan,
langit berwarna jingga seperti hatiku yang ragu
antara ingin bicara atau tetap diam
seperti biasanya.

Kau duduk di bangku taman yang sama,
dengan senyum yang selalu bisa membuat dunia tampak sederhana.
Aku hanya beberapa langkah darimu,
namun jaraknya terasa seperti satu kehidupan penuh keberanian yang tak kumiliki.

Ingin rasanya kugenggam keberanian itu sore ini,
menyebut namamu,
mengatakan betapa lama aku telah jatuh,
pada segala yang sederhana darimu.

Tapi aku hanya berdiri,
seperti pohon tua yang menatap langit
tak bergerak, tak bicara,
meski di dadanya badai tak kunjung reda.

Angin sore menyapu rambutmu,
dan aku masih diam.
Menunggu momen sempurna yang tak pernah datang,
sampai akhirnya senja pun lelah
dan kau beranjak pergi,
lagi.

Kini, aku hanya punya sisa cahaya dari langit yang semakin redup,
dan bayanganmu yang pelan-pelan menghilang di ujung jalan.
Sore telah mencatat satu lagi penyesalan
seorang lelaki yang mencintai dalam diam,
dan tak pernah sempat mengatakan


“Aku menyayangimu sejak senja pertama yang kita lihat bersama.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar