Rabu, 21 Januari 2026

SUMERAH



Ngadeg panceg di luhur amparan jagat

Mayun ngiblat ngadeuheus nu maha haat

Ati nyungsi jaladri asih illahi

Nu sumawur nyambuang saawang-awang


Soca mencrong khusu kana pangsujudan

Ati tigin nyawang geusan pangbalikan

Nu kapireng seuneu ngalentab durjana

Nu kaimpleng éndahna taman kabagja


Panangan nyampay na raga teu walakaya

Haté ihlas kumereb pasrah sumerah

Hirup hurip sinareng maotna abdi

Mung salira Gusti, nu ngawasa sakersana


Nalika sujud kumambang muji nu héman

Kumalangkang pirang-pirang kahariwang

Inggis ragrag waktos meuntas dina cukang

Da rumaos Gusti hirup téh seueur wangkelang


Pangreureuhan, 21 Januari 2026
#SAK

Rabu, 14 Januari 2026

 

Ka Saha


Dimana ngancikna asih

Dimana nyangsangna tresna

Dimana panggihna cinta

Dimana – dimana tepungna rasa


Kasaha ngaitna ati

Kasaha munggaran jangji

Kasaha meungkeut pasini

Kasaha – kasaha ngedalkeun rasa


Ieu haté geus teu bisa dipaliré

Ieu haté geus henteu daékeun simpé

Ieu haté teu weléh galécok waé

Ieu haté geus teu tibra dipépéndé


Nyongsrong lamunan implengan

Nu langgeng jadi impian

Iraha atuh iraha

Nu diimpleng kasorangna


Pangrereuhan, 14 Januari 2026

Rabu, 07 Januari 2026

 

Haréwos Katresna


Raraosan mah teu pira

Pédah naros rék kamana

Sinareng kawit timana

Obrolan manjang jadina


Raraosan mah teu pira

Pédah naros kakasihna

Sareng dimana linggihna

Jadi manjang lalakona


Da bongana dilayanan

Obrolan katutuluyan

Nyosok jero susuganan

Haté hayang ngajugjugan


Ti kawit tepang harita

Jadi sering sambung rasa

Panglayar galura hawa

Nu mawa haréwos tresna


Kalan – kalan ngintun serat

Unggelna wuwuh tibelat

Pangemat nganteng duriat

Mugia teu reuntas pegat


Pangrereuhan, 7 januari 2026
#SAK

Sabtu, 03 Januari 2026

 

Peuting Pangimplengan


Najan bulan mabra nyaangan buana

Najan béntang di langit caang baranang

Tingkariceup cangra taya aling-aling

Peuting angger sepi jempling taya anu miroséa


Endahna peuting bet nurihan haté kuring

Anu rajét disosoéh rasa tresna

Éndahna peuting bet nyeuitan haté kuring

Anu simpé dipépéndé ku nu galécokna haté


Angin peuting lirih tingtrim ngadalingding

Nyuat-nyuat pikir nu wuwuh tibelat

Bulan béntang nu rapang caang baranang

Ngalelewang rasa nu teu weléh kumambang honcéwang


Ngumbar lamunan nyorangan

Taya nu nyanding marengan

Ukur raga nu nyangsaya

Dina tumpukan implengan


Bulan ngangkleung maju ngulon

Marengan manteng lamunan

Bulan ngangkleung meulah peuting

Marengan hiji impian


Pangreureuhan, 3 januari 2026

#SAK

Rabu, 31 Desember 2025

Ganti Taun

 

Jarum béker nikreuh muter
Angka teu bosen diider
Detik menit henteu leungit
Itungan jam teu kaliwat

Tanggal bulan na almenak Tuduh wanci nu katincak Tangara hambalan mangsa Saban poéna dihanca Ditempo mun rajeun poho Nu kedal ngan euleuh geuning Asa cikénéh kamari Tanggal hiji Januari Ayeuna geus tilu hiji Désémber rék pamit deui Isukan téh ganti taun Hirup ngurangan sataun Teu karasa ngasuh laku Tara nginget – nginget waktu Komo malikan jarami Ngitung léngkah nu kamari
Pangreureuhan, 31 Desember 2025
#SAK


Jumat, 12 September 2025

Pertemuan yang Membawa Kedamaian


Ada malam-malam tertentu dalam hidup yang terasa sederhana, namun meninggalkan jejak yang panjang dalam hati. Malam ketika aku bertemu denganmu adalah salah satunya. Tidak ada perayaan besar, tidak ada rencana istimewa. Hanya pertemuan yang berlangsung alami, lalu kita berbincang sampai waktu seakan lupa berjalan. Tetapi justru kesederhanaan itu yang menjadikannya begitu berharga.

Percakapan kita malam itu bukanlah tentang mencari jawaban atas pertanyaan besar kehidupan. Kita tidak sedang berusaha menyelesaikan masalah dunia. Kita hanya duduk, berbagi cerita, dan mendengarkan. Namun, dalam kesederhanaan itulah aku menemukan ruang untuk mengenali kembali diriku sendiri. Setiap kata yang terucap menjadi cermin yang memantulkan bagian-bagian dari diriku yang selama ini aku abaikan. Aku mulai menyadari bahwa banyak hal yang dulu terasa berat, sesungguhnya hanya menunggu untuk diterima dengan lapang dada.

Ada titik di mana aku merasa berdamai. Aku tidak lagi menolak rasa kecewa, tidak lagi melawan kesedihan, bahkan tidak lagi berusaha menutupi ketakutan. Aku membiarkan semua itu hadir, lalu menerimanya sebagai bagian dari perjalanan hidupku. Rasanya seperti melepaskan beban yang sekian lama dipikul tanpa aku sadari. Kedamaian itu datang bukan dari luar diriku, tetapi dari keberanian untuk mengatakan, “Aku baik-baik saja dengan diriku sendiri.”

Yang menarik, aku melihat hal yang sama terjadi padamu. Dari tatapanmu, aku menangkap sejenis kelegaan. Seolah-olah kamu juga menemukan ruang damai dalam percakapan itu. Kita berdua, dengan cara masing-masing, sedang belajar berdamai dengan diri sendiri. Aku tidak tahu bagaimana prosesmu sebelum malam itu, tapi aku melihat ada senyum kecil yang tulus, yang menunjukkan bahwa sebagian dari bebanmu pun akhirnya terlepas.

Pertemuan ini mengajarkanku sesuatu yang berharga: bahwa kebahagiaan dan ketenangan tidak selalu datang dari hubungan dengan orang lain, melainkan dari rekonsiliasi kita dengan diri sendiri. Namun, terkadang, kehadiran orang lain menjadi pintu yang membuka jalan menuju proses itu. Aku mungkin tidak akan bisa berdamai secepat ini jika tidak ada percakapan malam itu. Dan mungkin, kamu pun merasakan hal yang sama.

Pada akhirnya, aku belajar bahwa setiap pertemuan memiliki alasan. Ada yang datang untuk tinggal, ada yang datang hanya untuk lewat, tetapi semua membawa makna. Malam itu, aku tidak menuntutmu untuk tetap ada, dan kamu pun tidak menuntutku untuk selalu bertahan. Kita hanya duduk, berbicara, lalu pulang dengan hati yang lebih ringan. Itu saja sudah cukup.

Kini, ketika aku menuliskan refleksi ini, aku merasa bersyukur. Aku bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk merasakan kelegaan, untuk menerima diriku apa adanya, dan untuk melihat bahwa orang lain pun sedang berjuang menemukan hal yang sama. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tapi aku tahu bahwa malam itu telah mengajarkanku arti kedamaian yang sejati.

Kadang-kadang, kita hanya perlu satu percakapan, satu malam yang tenang, dan satu kehadiran sederhana untuk menyadari bahwa hidup ini tidak seberat yang kita kira. Dan malam itu, bagiku, adalah malam di mana aku akhirnya berdamai. dengan diriku sendiri, dan denganmu.


Utara Bandung, 2025

Selasa, 12 Agustus 2025

"Vocatio Quae Fata Mutavit"

Hari itu, suara dering telepon seperti mengetuk pelan pintu mimpiku, lalu merobeknya dengan lembut. Mata yang berat terpaksa membuka diri, dan di ujung sana,suara itu,suara yang paling kukenal di dunia: ibuku.
Nada bicaranya seperti arus sungai di musim hujan; tenang tapi tak bisa dibendung. Ia mengabarkan sesuatu yang akan mengubah arah langkahku: aku harus pulang. Sebuah panggilan untuk memasuki dunia asing bernama pendidikan.

Setelah menerima telepon dari ibu, aku memilih menyepi sejenak. Dunia di sekitarku tetap ramai motor melintas, suara gelas beradu di warung kopi namun kepalaku adalah pusaran badai yang tak terlihat. Pikiran berputar tak karuan, seakan benang kusut yang tak tahu ujung dan pangkalnya.
Niatku pada awalnya sederhana: datang ke Bali untuk bekerja, menambatkan tenaga dan waktu demi masa depan yang kuatur sendiri. Namun kini, satu panggilan saja telah menggeser seluruh peta perjalanan. Apa yang kukira jalanku, ternyata hanya lorong sementara yang membawaku menuju pintu lain. pintu yang dibuka oleh suara ibu.

Setelah menyepi, membiarkan pikiran menenangkan diri seperti air yang kembali jernih setelah riaknya reda, aku mengambil keputusan: pulang hari itu juga. Mungkin, perjalanan ini memang cukup sampai di sini. Ada rasa yang sulit kujelaskan seperti perahu yang tahu kapan harus kembali ke dermaga meski angin masih bertiup.

Sampai di kosan, aku duduk bersama Maybu. Obrolan kami mengalir pelan, tapi suaranya selalu mengandung semangat yang mencoba menegakkanku kembali. Ia mengingatkan tujuan awal kami, seakan ingin menaruh kembali kompas di tanganku.
Aku hanya tersenyum pahit, lalu menjawab lirih, "May, urang jigana teu bisa ngabuktikeun nanaon deui euy. Lulus 14 semester, ulin kamana wae…" Kalimat itu seperti kunci yang membuka seluruh keresahan yang kusimpan. Tentang waktu yang terbuang, tentang langkah-langkah yang tak selalu menuju ke satu titik, tentang rasa kalah pada diriku sendiri.

Ia terdiam, lalu mengangguk perlahan. "Sok, rek balik iraha? Hayu, dianterkeun ku urang," ucapnya, seolah mengerti tanpa perlu aku menjelaskan lebih jauh.

Segera aku bergegas mencari tiket bus. Harapanku sederhana langsung menuju Bandung. Namun hidup, seperti biasa, tak pernah memberi jalur lurus. Semua tiket jurusan Bali–Bandung habis. Terpaksa aku memilih rute yang memutar: Bali–Jogja–Bandung. Perjalanan yang lebih panjang, tapi mungkin di situlah semua yang ingin kupelajari tentang pulang akan kutemukan.

Pukul 13.00, Maybu mengantarkanku ke pool Surya Bali, tak jauh dari terminal Ubung. Jalan menuju ke sana terasa singkat, padahal di kepalaku waktu berjalan lambat seolah ingin menahan langkahku. Sesampainya di pool, aku menatapnya sekali lagi, lalu bertanya dengan nada yang lebih seperti memastikan nasib, “Terus, May… kumaha engke?”

Ia tersenyum tipis, matanya menatap jauh, “Urang bakal neruskeun tujuan awal urang kadieu. Tambahanna… moal waka  balik nepi ka tilu taun wae mah.”
Jawaban itu membuat dadaku berat, meski aku sudah tahu ia akan tetap berjalan di jalannya sendiri. Aku menarik napas, lalu meminta maaf karena tak bisa membersamai langkah itu. Kata-kata yang keluar rasanya sederhana, tapi di dalamnya ada rasa kalah dan pasrah yang menekan dari segala sisi.

Ia menerimanya dengan lapang dada atau setidaknya begitu yang ingin ia tunjukkan. Aku tahu, ada beban yang ia simpan di balik senyumnya.
Akhirnya, suara panggilan pemberangkatan terdengar. Bus jurusan Bali–Jogja bersiap melaju. Kami berpisah tanpa pelukan, hanya dengan tatapan yang mengirimkan semua kata yang tak sempat terucap. Saat bus mulai bergerak, aku melihatnya mengecil di balik kaca, seperti tujuan awal kami yang kini tinggal kenangan di persimpangan jalan.