Pundak kita sejajar kala langkah menyatu,
menertawakan hal-hal remeh seolah dunia milik berdua,
dan di sela tawa itu, tatapan kita saling berbicara
tanpa kata, namun penuh makna.
Wajahmu seperti cahaya jingga yang perlahan memeluk langit sore,
suaramu serupa desir angin lembut yang menenangkan jiwa,
dan tubuhmu… berdiri seperti siluet puncak, diam tapi agung.
tenang, hangat, dan memukau dalam kesederhanaannya.
Ketika kau tak ada, waktu berjalan malas,
seperti langit yang lupa warna birunya.
Aku mencoba menyamarkan rindu dengan kalimat ringan,
‘Aku kesepian,’ kataku sambil tersenyum kecil.
Dan kau… hanya tertawa.
Lucunya, kau tak tahu, di balik kalimat itu,
ada hati yang duduk diam menunggu.
Lalu aku mulai menghitung satu per satu,
jejak-jejak kecil yang pernah kau tinggalkan
dengan harap, ia tetap bersinar di tempatnya,
tak padam, meski kau tak lagi ada di dekat ku.
seperti langit yang mereda setelah hujan
mungkin hati ini pun akan kembali cerah,
saat kuingat kembali hangatnya senyummu
yang kusapa dalam kepala, lalu bibirku ikut merekah bahagia
Entah sejak kapan, tapi mungkin sejak hari itu kita tetap menjadi kita.
Tak banyak yang berubah. Masih berlari bersama, menyusuri malam demi malam
seakan yakin bahwa esok selalu pantas untuk diperjuangkan.
Kita tak menuntut waktu untuk berhenti, hanya ingin tetap saling menggenggam
saat dunia terus berputar
Ketika aku sendiri, saat kekhawatiran menyelinap diam-diam dan malam terasa begitu panjang,
kita akan terus berbincang meski hanya lewat suara yang lelah, namun hangat.
Hingga tanpa sadar, kalimat yang belum selesai digantikan oleh napas tenang yang perlahan tertidur. Dan di sana, aku tahu… malamku tak lagi sepi
Kuingin tahu, apa yang kau lihat
saat matamu menerawang jauh,
melampaui kata-kata,
melintasi langit yang bahkan tak sempat kusapa.
Akankah aku bisa melihatnya juga,
di sini...
di tempat yang sama,
di mana senja mewarnai segalanya
Di antara jutaan pancaran cahaya, lahirlah sebuah rasa yang tak terucap
cinta yang tumbuh diam-diam,namun tak pernah ragu akan arah.
Meski kau tak berubah, atau jika nanti dunia membuatmu berubah,
jangan khawatir...bagiku, kau tetap dirimu.
Kelak,
ketika waktu telah mengizinkan kita bertemu kembali,
aku ingin kita bertemu…
di tempat aku menatapmu dengan harap yang diam
dengan segala rasa pernah tumbuh tanpa suara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar