Selasa, 12 Agustus 2025

"Vocatio Quae Fata Mutavit"

Hari itu, suara dering telepon seperti mengetuk pelan pintu mimpiku, lalu merobeknya dengan lembut. Mata yang berat terpaksa membuka diri, dan di ujung sana,suara itu,suara yang paling kukenal di dunia: ibuku.
Nada bicaranya seperti arus sungai di musim hujan; tenang tapi tak bisa dibendung. Ia mengabarkan sesuatu yang akan mengubah arah langkahku: aku harus pulang. Sebuah panggilan untuk memasuki dunia asing bernama pendidikan.

Setelah menerima telepon dari ibu, aku memilih menyepi sejenak. Dunia di sekitarku tetap ramai motor melintas, suara gelas beradu di warung kopi namun kepalaku adalah pusaran badai yang tak terlihat. Pikiran berputar tak karuan, seakan benang kusut yang tak tahu ujung dan pangkalnya.
Niatku pada awalnya sederhana: datang ke Bali untuk bekerja, menambatkan tenaga dan waktu demi masa depan yang kuatur sendiri. Namun kini, satu panggilan saja telah menggeser seluruh peta perjalanan. Apa yang kukira jalanku, ternyata hanya lorong sementara yang membawaku menuju pintu lain. pintu yang dibuka oleh suara ibu.

Setelah menyepi, membiarkan pikiran menenangkan diri seperti air yang kembali jernih setelah riaknya reda, aku mengambil keputusan: pulang hari itu juga. Mungkin, perjalanan ini memang cukup sampai di sini. Ada rasa yang sulit kujelaskan seperti perahu yang tahu kapan harus kembali ke dermaga meski angin masih bertiup.

Sampai di kosan, aku duduk bersama Maybu. Obrolan kami mengalir pelan, tapi suaranya selalu mengandung semangat yang mencoba menegakkanku kembali. Ia mengingatkan tujuan awal kami, seakan ingin menaruh kembali kompas di tanganku.
Aku hanya tersenyum pahit, lalu menjawab lirih, "May, urang jigana teu bisa ngabuktikeun nanaon deui euy. Lulus 14 semester, ulin kamana wae…" Kalimat itu seperti kunci yang membuka seluruh keresahan yang kusimpan. Tentang waktu yang terbuang, tentang langkah-langkah yang tak selalu menuju ke satu titik, tentang rasa kalah pada diriku sendiri.

Ia terdiam, lalu mengangguk perlahan. "Sok, rek balik iraha? Hayu, dianterkeun ku urang," ucapnya, seolah mengerti tanpa perlu aku menjelaskan lebih jauh.

Segera aku bergegas mencari tiket bus. Harapanku sederhana langsung menuju Bandung. Namun hidup, seperti biasa, tak pernah memberi jalur lurus. Semua tiket jurusan Bali–Bandung habis. Terpaksa aku memilih rute yang memutar: Bali–Jogja–Bandung. Perjalanan yang lebih panjang, tapi mungkin di situlah semua yang ingin kupelajari tentang pulang akan kutemukan.

Pukul 13.00, Maybu mengantarkanku ke pool Surya Bali, tak jauh dari terminal Ubung. Jalan menuju ke sana terasa singkat, padahal di kepalaku waktu berjalan lambat seolah ingin menahan langkahku. Sesampainya di pool, aku menatapnya sekali lagi, lalu bertanya dengan nada yang lebih seperti memastikan nasib, “Terus, May… kumaha engke?”

Ia tersenyum tipis, matanya menatap jauh, “Urang bakal neruskeun tujuan awal urang kadieu. Tambahanna… moal waka  balik nepi ka tilu taun wae mah.”
Jawaban itu membuat dadaku berat, meski aku sudah tahu ia akan tetap berjalan di jalannya sendiri. Aku menarik napas, lalu meminta maaf karena tak bisa membersamai langkah itu. Kata-kata yang keluar rasanya sederhana, tapi di dalamnya ada rasa kalah dan pasrah yang menekan dari segala sisi.

Ia menerimanya dengan lapang dada atau setidaknya begitu yang ingin ia tunjukkan. Aku tahu, ada beban yang ia simpan di balik senyumnya.
Akhirnya, suara panggilan pemberangkatan terdengar. Bus jurusan Bali–Jogja bersiap melaju. Kami berpisah tanpa pelukan, hanya dengan tatapan yang mengirimkan semua kata yang tak sempat terucap. Saat bus mulai bergerak, aku melihatnya mengecil di balik kaca, seperti tujuan awal kami yang kini tinggal kenangan di persimpangan jalan.


Senin, 11 Agustus 2025

Lelaki yang Diam

 

Aku mencintaimu...
namun hanya lewat tatap yang tak pernah kau sadari.
Lewat senyum yang kutahan,
dan doa-doa yang tak pernah kau tahu namanya siapa.

Setiap kali kau lewat,
jantungku berlari lebih dulu dari langkahku.
Tapi lidahku selalu gugup,
seakan kata “aku suka padamu”
adalah mantra terlarang di hadapanmu.

Aku adalah lelaki yang diam.
Yang menyimpan cinta dalam detak,
bukan dalam ucapan.
Yang memilih memeluk bayanganmu,
karena terlalu takut kehilangan nyata dirimu.

Dan waktu pun berjalan…
kau jatuh cinta tapi bukan padaku.
Kau tertawa bahagia dalam pelukan orang lain,
sementara aku… masih di tempat yang sama,
mencintaimu dalam diam yang sama.

Kini segalanya telah terlambat.
Kau bahagia, dan aku tak pernah menjadi bagian dari kisah itu.
Satu-satunya warisan dari perasaanku hanyalah penyesalan,
dan sebaris puisi yang tak sempat kuberikan padamu.

Aku lelaki yang diam.
Yang pernah mencintaimu sedalam laut,
setenang langit…
namun tak pernah cukup berani untuk menyelam ke hatimu.


terinspirasi dari cerita sahabat